Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Dispepsia di Puskesmas Kota Mamasa Sulawesi Barat
DOI:
https://doi.org/10.56314/inhealth.v5i2.390Keywords:
Dispepsia, Kafein, Makanan Pedas, Makanan Asam, Keteraturan MakanAbstract
Dispepsia merupakan kumpulan gejala gastroduodenal yang dapat mengganggu kualitas hidup dan sering berkaitan dengan pola konsumsi. Bukti mengenai hubungan kafein, makanan pedas, makanan asam, dan keteraturan makan dengan gejala dispepsia masih bervariasi antarpopulasi. Menganalisis hubungan konsumsi kafein, makanan pedas, makanan asam, dan keteraturan makan dengan kejadian gejala dispepsia pada pengunjung Puskesmas Mamasa, Sulawesi Barat. Penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional melibatkan 82 responden yang dipilih secara purposif dari populasi terjangkau 482 orang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan Pearson chi-square. Besar asosiasi disajikan sebagai rasio prevalensi (RP) dan interval kepercayaan 95% (IK95%). Sebanyak 45 responden (54,9%) dikategorikan positif terhadap gejala dispepsia. Konsumsi kafein lebih dari normal berhubungan dengan dispepsia (RP=1,81; IK95% 1,25-2,63; p=0,003), demikian pula konsumsi makanan pedas tinggi (RP=2,15; IK95% 1,17-3,94; p=0,003) dan makan tidak teratur (RP=1,64; IK95% 1,06-2,56; p=0,018). Konsumsi makanan asam tidak menunjukkan hubungan yang bermakna (RP=1,09; IK95% 0,73-1,61; p=0,687). Konsumsi kafein, makanan pedas, dan keteraturan makan menunjukkan asosiasi statistik dengan gejala dispepsia, sedangkan konsumsi makanan asam tidak. Temuan perlu ditafsirkan sebagai asosiasi karena desain penelitian bersifat cross-sectional.
Downloads
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Dea Angelica, Irmawati Irmawati, Baharuddin Baharuddin

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.


