https://jurnal-eureka.com/index.php/inhealth/issue/feedINHEALTH : INDONESIAN HEALTH JOURNAL 2026-08-01T00:00:00+00:00Sujarwo, S. Pd., M. Pd jarwo.ibrahim@gmail.comOpen Journal Systems<ol> <li><strong>Journal Title</strong> : <strong>INHEALTH</strong></li> <li><strong>Subjects</strong> : Indonesia Health Journal</li> <li><strong>Language </strong>: Indonesia, English</li> <li><strong>E-ISSN</strong><strong>|P-ISSN</strong> : <a href="https://issn.perpusnas.go.id/terbit/detail/20220213292134952">2828-2663</a>| <a href="https://issn.perpusnas.go.id/terbit/detail/20220317362249215">2829-0542</a></li> <li><strong>Focus and scope</strong> : Nursing Science, Midwifery Science, Public health, Medicine, Pharmacy, Biochemistry, Molecular biology related drug design, Nutrition Science, Dental. Optometric, Cardiovascular, Medical Laboratory Technology and, Health science in general</li> <li><strong>Frequency</strong> : 2 issues per year (<strong><em>February and August</em></strong>) </li> <li><strong>Publisher</strong> : CV. Eureka Murakabi Abadi (Terdaftar Kementerian Hukum Dan Hak Azazi Manusia dengan Nomor : C-475.HT.03.01-TH.2021. Date 16 November 2021)</li> <li> <strong>DOI </strong>: Yes </li> </ol> <p>Welcome to the official <strong>INHEALTH</strong>: Indonesian Health Journal website. <strong>INHEALTH</strong>: Indonesian Health Journal has the content of research results and reviews in the field of selected studies covering various branches of health science. <strong><em>This journal is published Twice (2 Kali) within a year of February and August</em></strong>, submitted and ready-to-publish scripts will be published online gradually and the printed version will be released at the end of the publishing period.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>INHEALTH JOURNAL</strong> is published by <strong>CV. Eureka Murakabi Abadi</strong>.</p>https://jurnal-eureka.com/index.php/inhealth/article/view/512Efektivitas Stretching dan Scar Massage terhadap Peningkatan ROM pada Kontraktur Pasca Luka Bakar 2026-04-24T01:28:04+00:00Presinta Dewipresintad@gmail.comArin Supriyadiarinfisio@gmail.comNilam Nur Hamidahnilamnurhamidah@gmail.com<p>Luka bakar sering menyebabkan pembentukan jaringan parut yang berujung pada kontraktur dan keterbatasan lingkup gerak sendi (Range of Motion/ROM), terutama pada ekstremitas atas. Kontraktur pasca luka bakar dapat menimbulkan gangguan fungsi dan menurunkan kualitas hidup, sehingga diperlukan intervensi rehabilitasi yang efektif untuk memulihkan mobilitas sendi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas kombinasi stretching dan scar massage terhadap peningkatan lingkup gerak sendi pada pasien dengan kontraktur pasca luka bakar. Penelitian ini menggunakan desain <em>case report</em> berdasarkan CARE Guidelines. Subjek penelitian adalah seorang laki-laki berusia 23 tahun dengan kontraktur pasca luka bakar listrik pada jari ke-IV tangan kiri. Intervensi berupa kombinasi latihan stretching dan scar massage diberikan selama tiga minggu dengan frekuensi satu kali per hari. Stretching dilakukan dengan intensitas sedang selama 10 detik sebanyak tiga set, sedangkan scar massage diberikan selama 15 menit menggunakan teknik effleurage, kneading, dan friction. Pengukuran lingkup gerak sendi dilakukan menggunakan goniometer sebelum dan sesudah intervensi. Setelah tiga minggu intervensi, lingkup gerak sendi jari ke-IV meningkat dari 10° menjadi 20°, yang menunjukkan peningkatan mobilitas sendi yang bermakna secara klinis. Pasien juga melaporkan penurunan kekakuan dan peningkatan fleksibilitas jari. Hasil evaluasi tindak lanjut menunjukkan bahwa peningkatan ROM tetap stabil setelah jeda latihan. Kombinasi stretching dan scar massage efektif dalam meningkatkan dan mempertahankan lingkup gerak sendi pada pasien dengan kontraktur pasca luka bakar. Pendekatan ini dapat dipertimbangkan sebagai intervensi fisioterapi yang aman dan bermanfaat dalam program rehabilitasi pasca luka bakar.</p>2026-08-08T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Presinta Dewi, Arin Supriyadi, Nilam Nur Hamidahhttps://jurnal-eureka.com/index.php/inhealth/article/view/510Penatalaksanaan Fisioterapi Pasca Stroke dengan Gangguan Motorik dan Gait Abnormal2026-04-24T01:23:34+00:00Dheonita Marsyanda Rofifahdheonitamarsyanda@gmail.comUmi Budi Rahayuubr155@ums.ac.idMuhammad Fauzanmuhammadfauzan@gmail.com<p>Latar Belakang: Stroke merupakan gangguan neurologis yang menyebabkan disabilitas jangka panjang, dengan manifestasi utama berupa gangguan motorik, keseimbangan, dan pola berjalan. Gangguan tersebut berdampak pada penurunan kemampuan aktivitas sehari-hari serta kualitas hidup pasien. Fisioterapi berperan penting dalam rehabilitasi pasien stroke melalui pendekatan komprehensif. Tujuan: Mengetahui hasil penatalaksanaan fisioterapi dalam menurunkan nyeri, meningkatkan keseimbangan, dan memperbaiki kemampuan fungsional pada pasien post stroke. Metode: Penelitian ini menggunakan desain case report pada pasien Ny. T, perempuan usia 58 tahun dengan diagnosis sequela cerebral infarct di RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang. Intervensi yang diberikan meliputi Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), Infra Red (IR) selama 10 menit, serta terapi latihan berupa stretching, strengthening, dan balance training dengan frekuensi 2 kali per minggu. Evaluasi dilakukan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), Barthel Index, serta pemeriksaan keseimbangan dan pola berjalan. Hasil: Setelah pemberian intervensi fisioterapi, terjadi penurunan nyeri dari nyeri tekan 7/10, nyeri gerak 4/10, dan nyeri diam 2/10 menjadi lebih ringan, peningkatan keseimbangan, serta perbaikan kemampuan fungsional dengan nilai Barthel Index 85 (kemandirian ringan). Kesimpulan: Penatalaksanaan fisioterapi berupa kombinasi TENS, Infra Red, dan terapi latihan mampu meningkatkan keseimbangan, menurunkan nyeri, serta memperbaiki kemampuan fungsional pasien post stroke.</p>2026-08-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Dheonita Marsyanda Rofifah, Umi Budi Rahayu, Muhammad Fauzahttps://jurnal-eureka.com/index.php/inhealth/article/view/538Penatalaksanaan Fisioterapi pada Pasien Pasca Rekonstruksi ACL dan Meniscus Repair Fase 1: Case Report2026-05-22T08:28:06+00:00Longgar AtiningsihJ130255092@student.ums.ac.idSuryo Saputro PerdanaJ130255092@student.ums.ac.idSigit SaputroJ130255092@student.ums.ac.id<p>Latar belakang: Cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL) dan meniskus sering menyebabkan gangguan stabilitas dan fungsi lutut, sehingga membutuhkan rehabilitasi fisioterapi yang optimal pada fase awal pascaoperasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi fisioterapi pada fase awal pasca rekonstruksi ACL dan meniscus repair terhadap peningkatan fungsi lutut. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan intervensi fisioterapi yaitu TENS, latihan Range of Motion (ROM), penguatan otot, latihan proprioseptif, dan gait training dengan prinsip Weight Bearing As Tolerated (WBAT). Evaluasi dilakukan menggunakan VAS, goniometer, dan Manual Muscle Testing (MMT). Hasil menunjukkan penurunan nyeri dari VAS ≤3/10 menjadi ≤1/10, peningkatan ROM fleksi hingga ≥110° dengan ekstensi penuh, serta peningkatan kekuatan otot dari MMT ≥3/5 menjadi ≥4/5. Stabilitas dan kemampuan fungsional juga meningkat ditandai dengan kemampuan berjalan lebih dari 150 meter dan aktivitas naik-turun tangga secara aman. Kesimpulan: Intervensi fisioterapi pada fase awal efektif dalam meningkatkan fungsi lutut secara progresif pasca rekonstruksi ACL dan meniscus repair.</p>2026-08-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Longgar Atiningsih, Suryo Saputro Perdana, Sigit Saputrohttps://jurnal-eureka.com/index.php/inhealth/article/view/550Analisis Budaya Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Woodward Palu2026-06-28T02:02:54+00:00Muhammad Ali Hi. Palanrom.alipalanro@gmail.comBenny H. Tumbelakabenthum_indo@yahoo.co.id<p>Latar Belakang: Keselamatan pasien merupakan indikator utama mutu pelayanan kesehatan yang masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait beban kerja, komunikasi, dan pelaporan insiden di rumah sakit.</p> <p>Tujuan: Untuk menganalisis budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit Woodward Palu</p> <p>Metode: Penelitian ini menggunakan desain mixed methods explanatory sequential . Survei dilakukan pada 146 tenaga kesehatan menggunakan total sampling dengan kuisoner HSOPSC 2.0 berdasarkan kriteria inklusi, dan dilanjutkan wawancara pada 7 informan yang dipilih secara purposive sampling.</p> <p>Hasil: Skor budaya keselamatan pasien sebesar 73% (kategori sedang). Dimensi kerja sama tim (93%), komunikasi mengenai kesalahan (88%), perbaikan pelayanan (87%), peran pimpinan (86%), keterbukaan komunikasi (76%), dan serah terima pasien (78%) berada pada kategori kuat, menunjukkan komunikasi dan koordinasi yang baik. Sementara itu, ketersediaan staf dan beban kerja (35%) berada pada kategori lemah, serta tanggapan terhadap kesalahan (57%), pelaporan insiden (61%), dan dukungan manajemen (74%) berada pada kategori sedang. Hasil wawancara menunjukkan tema utama berupa kerja sama tim yang solid, komunikasi terbuka, dan evaluasi sebagai pembelajaran, namun masih terdapat kendala berupa kekurangan tenaga, beban kerja tinggi, serta pelaporan insiden yang belum optimal.</p> <p>Kesimpulan: Budaya keselamatan pasien telah cukup baik pada aspek komunikasi dan kerja sama tim, namun masih memerlukan penguatan pada pengelolaan tenaga dan sistem pelaporan untuk meningkatkan keselamatan pasien secara menyeluruh.</p>2026-08-10T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Muhammad Ali Hi. Palanro, Benny H. Tumbelakahttps://jurnal-eureka.com/index.php/inhealth/article/view/509Pengaruh Stimulasi Tumbuh Kembang Terhadap Motorik Kasar Pada Pasien Enchepalitis2026-04-10T02:04:08+00:00Pramudita Widi Iswarawidi301299@gmail.comAgus Widodoagus.Widodo@ums.ac.idNovy Hikmahikmahnovy@gmail.com<p><em>Cerebral Palsy</em> (CP) adalah suatu kelainan yang menyebabkan gangguan pada gerakan dan koordinasi tubuh. Kelainan ini disebabkan oleh kerusakan di system saraf pusat di saat prenatal, perinatal, ataupun postnatal. Post encephalitis adalah kondisi yang muncul setelah fase akut radang otak (encephalitis) mereda. Dimana hasil kerusakan neurologis atau psikologis yang berlangsung lama setelah proses inflamasi otak awal. <em>Cerebral Palsy Post Encephalitis</em> adalah kondisi <em>Cerebral Palsy</em> (lumpuh otak) yang terjadi akibat kerusakan otak yang dialami setelah anak mengalami encephalitis. Yaitu radang otak yang menyebabkan cedera jaringan otak permanen sehingga mempengaruhi perkembangan gerak, postur, dan fungsi motoric. Penatalaksanaan fisioterapi yang diberikan untuk penderita CP saah satunya stimulasi tumbuh kembang pada penderita <em>Cerebral Palsy Post Encephalitis. </em>Stimulasi tumbuh kembang adalah rangsangan yang diberikan rutin dan terarah untuk membantu anak belajar dan latihan fungsi dasar motoric serta kemampuan bergerak. (berguling, duduk, berdiri, dan berjalan). Stimulasi terhadap motoric kasar pada pasien <em>Post Encephalitis</em> antara lain kontrol kepala & postur, Latihan posisi & transisi, latihan kekuatan otot, latihan keseimbangan (<em>Balance Training</em>), latihan berjalan (<em>Gait Training</em>), koordinasi & motor planning, stimulasi vestibular & proprioseptif, aktivitas bermain fungsional. Peran dari fisioterapi dalam pasien penderita post Encephalitis meliputi, menilai tonus, reflek & kekuatan otot, menentukan profrsi latiham, mencegah deformitas & kontraktur, dan home program.</p>2026-08-22T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Pramudita Widi Iswara, Agus Widodo, Novy Hikmahttps://jurnal-eureka.com/index.php/inhealth/article/view/525Konstruksi Sosial dan Budaya dalam Pembentukan Perilaku Hidup Bersih Masyarakat Desa Adat Penglipuran2026-04-24T01:35:07+00:00Muhammad Ilyasilyasanjar94@gmail.comSamsu A. Kamaruddin syamsu.k@unm.ac.idArlin Adam arlin.adam73@gmail.comAhmadin Ahmadinahmadin@unm.ac.id<p><em>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi sosial dan budaya dalam pembentukan perilaku hidup bersih masyarakat Desa Adat Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali. Fokus kajian diarahkan pada bagaimana nilai, norma, adat, dan praktik sosial sehari-hari membentuk, menjaga, dan mereproduksi perilaku hidup bersih sebagai bagian dari kehidupan kolektif masyarakat desa adat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi lapangan. Data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap praktik kebersihan, tata ruang desa, interaksi sosial masyarakat, serta peran lembaga adat dalam menjaga keteraturan lingkungan. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan menggunakan perspektif konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, khususnya melalui konsep eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku hidup bersih di Desa Adat Penglipuran tidak hanya lahir dari kesadaran individual, tetapi dibangun melalui proses sosial yang panjang dan berkelanjutan. Kebersihan dimaknai sebagai nilai bersama yang berkaitan dengan moralitas, keteraturan, penghormatan terhadap adat, serta harmoni antara manusia, lingkungan, dan kehidupan sosial. Nilai tersebut kemudian dilembagakan melalui tata ruang desa, awig-awig, kebiasaan komunal, dan kontrol sosial yang bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, nilai kebersihan diinternalisasi melalui keluarga, komunitas, dan pembiasaan antargenerasi hingga menjadi bagian dari identitas kolektif masyarakat Penglipuran. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa perilaku hidup bersih akan lebih kokoh dan berkelanjutan apabila ditopang oleh legitimasi budaya, partisipasi warga, serta institusi lokal yang hidup dan berfungsi secara efektif. Dengan demikian, Desa Adat Penglipuran menunjukkan bahwa kebersihan bukan semata persoalan kesehatan lingkungan, melainkan juga hasil konstruksi sosial budaya yang memperkuat ketahanan sosial, citra desa, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat adat. </em></p>2026-08-22T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Muhammad Ilyas, Samsu A. Kamaruddin , Arlin Adam , Ahmadin Ahmadinhttps://jurnal-eureka.com/index.php/inhealth/article/view/386Analisis Peran Tenaga Kefarmasian dalam Meningkatkan Kepatuhan Penggunaan Obat pada Pasien Diabetes Melitus di RSUD Batara Siang Kota Pangkep2025-08-10T20:06:23+00:00Agriawan Sudirmanagriawansudirman@unimerz.ac.idMutia Mutmainnamutiamutmainna21@gmail.comMuhammad Asri SRmuhammadasri324@unimerz.ac.idSyaifullah SaputroSyaifullahsaputro@gmail.comNur Rezky Rutami Amirrezkyrutami@unimerz.ac.idMifta Khaerati Ikhsan miftakhaerati@gmail.comAndi Ulfiana Utariandiulfiana@unej.ac.idHasbi As-Shiddiqhasbi_asshiddiq@umbjm.ac.id<p>Diabetes Melitus merupakan penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan jangka panjang dengan tingkat kepatuhan tinggi untuk mencapai keberhasilan terapi. Tenaga kefarmasian memiliki kontribusi penting dalam meningkatkan keberhasilan terapi melalui edukasi, konseling, dan pelayanan informasi obat. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antar peran tenaga kefarmasian dengan tingkat kepatuhan penggunaan obat pada pasien diabetes melitus di RSUD Batara Siang Kota Pangkep. Studi ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 77 pasien yang dipilih melalui mininal sampel menggunakan rumus slovin. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang sudah tervalidasi, kemudian dianalisis menggunakan uji statistik Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran tenaga kefarmasian berada dalam kategori sedang dan tingkat kepatuhan pasien menunjukkan kepatuhan sedang. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara peran tenaga kefarmasian dan kepatuhan pasien (p = 0,001). Faktor demografi seperti jenis kelamin, usia, pendidikan, dan pekerjaan juga menunjukkan korelasi dengan tingkat kepatuhan pasien. Kesimpulannya, peran tenaga kefarmasian berkontribusi signifikan dalam meningkatkan kepatuhan penggunaan obat pada pasien diabetes melitus. Oleh karena itu, peningkatan kualitas layanan kefarmasian secara berkelanjutan diperlukan dalam mendukung optimalisasi terapi pasien.</p>2026-08-22T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Agriawan Sudirman, Mutia Mutmainna, Muhammad Asri SR, Syaifullah Saputro, Nur Rezky Rutami Amir, Mifta Khaerati Ikhsan Andi Ulfiana Utari, Hasbi As-Shiddiqhttps://jurnal-eureka.com/index.php/inhealth/article/view/586Analisis Kualitas Pengisian Berkas Rekam Medis Elektronik Dengan Tingkat Keberhasilan Klaim BPJS di UPT RSUD Labuang Baji Makassar2026-07-14T03:35:10+00:00Ariantin Ulfah Scariantinulfah@gmail.comSaparuddin Latusaparuddinlatu@unimerz.ac.idFais Satrianegarafaissatrianegara@gmail.comAsnanyasnany@unimerz.ac.idMuhammad Idris Pataraimuhammadidrispatarai@unimerz.ac.id<p>Kualitas pengisian rekam medis elektronik (RME) merupakan faktor kunci dalam keberhasilan proses verifikasi klaim BPJS Kesehatan. Ketidaklengkapan dan ketidaksesuaian RME berpotensi menimbulkan pending klaim yang berdampak negatif terhadap cash flow rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kualitas pengisian RME terhadap keberhasilan klaim BPJS pada pasien rawat jalan di UPT RSUD Labuang Baji Makassar. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian mencakup seluruh berkas RME pasien rawat jalan periode Oktober–Desember 2025 (17.714 kunjungan). Sampel penelitian berjumlah 393 berkas yang dipilih menggunakan teknik accidental/consecutive sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat (Chi-Square), dan multivariat (Regresi Logistik).</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pengisian RME berada pada kategori cukup sebanyak 265 berkas (67,4%) dan kategori baik sebanyak 128 berkas (32,6%). Angka pending klaim BPJS mencapai 265 klaim (67,4%) dan klaim diterima sebesar 128 klaim (32,6%). Uji Chi-Square menunjukkan hubungan yang signifikan antara kualitas RME dan keberhasilan klaim (p = 0,000). Hasil regresi logistik menunjukkan nilai Exp(B) = 0,483, mengindikasikan bahwa pengisian RME berkategori baik dapat menurunkan risiko terjadinya pending klaim BPJS sebesar 51,7%. Kesimpulannya, kualitas pengisian RME berpengaruh secara signifikan terhadap keberhasilan klaim BPJS Kesehatan.</p>2026-08-22T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Ariantin Ulfah Sc, Saparuddin Latu, Fais Satrianegara, Hasnany, Muhammad Idris Patarai https://jurnal-eureka.com/index.php/inhealth/article/view/505Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kesiapan Menghadapi Menopause pada Perempuan Perimenopause di Wilayah Kerja Puskesmas Antang2026-04-10T02:19:02+00:00Syamsuriyatisyamsuriyatiahmad@unimerz.ac.idSuriani Bahrunsurianibahrun@unimerz.ac.idEka Wardanisurianibahrun@unimerz.ac.id<p>Perimenopause merupakan masa transisi menuju menopause yang dapat disertai perubahan fisik, psikologis, dan sosial. Pengetahuan yang memadai mengenai proses menopause berpotensi membantu perempuan memahami perubahan yang terjadi dan mempersiapkan respons yang lebih adaptif. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan tingkat pengetahuan dengan kesiapan menghadapi menopause pada perempuan perimenopause di wilayah kerja Puskesmas Antang. Penelitian kuantitatif analitik observasional dengan desain cross-sectional dilaksanakan pada Oktober-Desember 2025. Populasi terjangkau berjumlah 245 perempuan perimenopause, dan 70 responden berusia 45-55 tahun dipilih dengan purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Guttman untuk mengukur pengetahuan dan kesiapan, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat. Sebanyak 57 responden (81,4%) memiliki pengetahuan baik dan 57 responden (81,4%) memiliki kesiapan baik. Di antara responden berpengetahuan baik, 56 dari 57 memiliki kesiapan baik; sedangkan 12 dari 13 responden berpengetahuan kurang memiliki kesiapan kurang. Uji asosiasi menunjukkan hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dan kesiapan menghadapi menopause (p < 0,001). Hasil ini menunjukkan adanya hubungan antara kedua variabel, tetapi desain potong lintang tidak dapat memastikan hubungan sebab-akibat. Penguatan edukasi menopause di layanan kesehatan primer dapat dipertimbangkan dan perlu dievaluasi lebih lanjut melalui penelitian dengan pengendalian faktor perancu.</p>2026-08-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Syamsuriyati, Suriani Bahrun, Eka Wardanihttps://jurnal-eureka.com/index.php/inhealth/article/view/534Analisis Intervensi Keperawatan Komunitas Berbasis Determinan Sosial Terhadap Health Inequality dan Health Inequity di Kelurahan Maccini Sombala Makassar2026-04-27T04:56:03+00:00Baso Witman Adiaksabasowitmanadiaksa.dty@uim-makassar.ac.idMuhammad Syukurmuh.syukur@unm.ac.idFirdaus W Suhaebfirdaus.w.suhaeb@unm.ac.id<p>Di Kota makassar masalah antara health inequality dan health inequity kadang menjadi indicator dari kepuasan pelayanan sehingga tak jarang beberapa Masyarakat enggan mengunakan layanan Kesehatan. Dalam memahami isu kesehatan, penting untuk membedakan antara health inequality dan health inequity. Health inequality merujuk pada perbedaan yang dapat diukur dalam status kesehatan antara individu atau kelompok yang berbeda, sering kali disebabkan oleh faktor-faktor yang dapat diidentifikasi dan diukur, seperti akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan kondisi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis intervensi keperawatan komunitas yang berbasis pada determinan sosial terhadap ketimpangan kesehatan (health inequality) dan ketidakadilan kesehatan (health inequity) pada komunitas rentan. Adapun sampel yang digunakan sebanyak 40 responden. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus sebagai strategi utama. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Maccini Sombala, Makassar, yang merupakan salah satu daerah dengan komunitas rentan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi keperawatan komunitas yang terintegrasi dengan determinan sosial memiliki dampak yang signifikan dalam mengurangi ketimpangan dan ketidakadilan kesehatan. Temuan ini mengindikasikan pentingnya pendekatan berbasis komunitas yang mempertimbangkan faktor sosial dalam upaya mengatasi masalah kesehatan pada kelompok rentan.</p>2026-08-24T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Baso Witman Adiaksa, Muhammad Syukur, Firdaus W Suhaebhttps://jurnal-eureka.com/index.php/inhealth/article/view/390Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Dispepsia di Puskesmas Kota Mamasa Sulawesi Barat2025-08-19T21:40:30+00:00Dea Angelicadeaangelll03@gmail.comIrmawati Irmawatiirmawati@stiktamalateamks.ac.idBaharuddin Baharuddinbaharuddin@stiktamalateamks.ac.id<p>Dispepsia merupakan kumpulan gejala gastroduodenal yang dapat mengganggu kualitas hidup dan sering berkaitan dengan pola konsumsi. Bukti mengenai hubungan kafein, makanan pedas, makanan asam, dan keteraturan makan dengan gejala dispepsia masih bervariasi antarpopulasi. Menganalisis hubungan konsumsi kafein, makanan pedas, makanan asam, dan keteraturan makan dengan kejadian gejala dispepsia pada pengunjung Puskesmas Mamasa, Sulawesi Barat. Penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional melibatkan 82 responden yang dipilih secara purposif dari populasi terjangkau 482 orang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan Pearson chi-square. Besar asosiasi disajikan sebagai rasio prevalensi (RP) dan interval kepercayaan 95% (IK95%). Sebanyak 45 responden (54,9%) dikategorikan positif terhadap gejala dispepsia. Konsumsi kafein lebih dari normal berhubungan dengan dispepsia (RP=1,81; IK95% 1,25-2,63; p=0,003), demikian pula konsumsi makanan pedas tinggi (RP=2,15; IK95% 1,17-3,94; p=0,003) dan makan tidak teratur (RP=1,64; IK95% 1,06-2,56; p=0,018). Konsumsi makanan asam tidak menunjukkan hubungan yang bermakna (RP=1,09; IK95% 0,73-1,61; p=0,687). Konsumsi kafein, makanan pedas, dan keteraturan makan menunjukkan asosiasi statistik dengan gejala dispepsia, sedangkan konsumsi makanan asam tidak. Temuan perlu ditafsirkan sebagai asosiasi karena desain penelitian bersifat cross-sectional.</p>2026-08-25T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Dea Angelica, Irmawati Irmawati, Baharuddin Baharuddin